61 Persen Wilayah Indonesia Diprediksi Alami Musim Hujan Lebih Lambat

oleh
oleh

Pada Januari 2027, puncak musim hujan diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan Papua.

Adapun pada Februari 2027, puncak musim hujan diprediksi terjadi di Lampung bagian tengah, sebagian besar Jawa dan Bali, sebagian Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, sebagian Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, serta sebagian Maluku dan Papua.

Ardhasena mengatakan durasi musim hujan juga diperkirakan lebih pendek dibandingkan kondisi normal.

Baca Juga: AMSI Dorong Media Maluku Utara Adaptif Hadapi Era AI

“Jika dibandingkan dengan normalnya, durasi musim hujan 2026/2027 di wilayah Indonesia diprediksi lebih pendek dari normalnya pada 482 ZOM yang mencakup 51,90 persen luas daratan Indonesia,” ujar dia.

Sebanyak 60 ZOM atau 8,58 persen wilayah diprediksi memiliki musim hujan lebih panjang dari normal, sedangkan 40 ZOM atau 5,06 persen diperkirakan memiliki durasi yang sama dengan normal.

Direktur Perubahan Iklim BMKG A. Fachri Radjab mengatakan dampak El Niño juga terlihat dari masih luasnya wilayah yang mengalami musim kemarau.

Berdasarkan pemantauan perkembangan musim, sebanyak 556 ZOM yang mencakup 61,91 persen luas daratan Indonesia masih mengalami musim kemarau.

Sejumlah wilayah bahkan telah mengalami hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari. Kondisi tersebut tersebar di 25 provinsi.

HTH terpanjang saat ini tercatat di wilayah Bantul, dengan periode tanpa hujan mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan.

“Bahkan El Niño 2026 menyebabkan terjadinya periode kemarau pada beberapa ZOM dengan tipe hujan sepanjang tahun,” kata Fachri.

Gerakan Tanam Padi PM-AS, Bupati Haltim Dorong Penguatan Sektor Pertanian3 hari yang lalu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *